Berbeda dan Merdeka 100% adalah sebuah gerakan sosial budaya yang
dilakukan secara sukarela, menyebar, dan mandiri di berbagai daerah di
Indonesia. Para seniman street art di berbagai kota membuat mural,
grafiti, menempel poster, stiker dan berbagai kegiatan artistik lainnya
di ruang kota masing-masing secara serentak pada 13 Januari 2011.
Kegiatan ini masih terus bergulir hingga sekarang, lihat: http://indonesiastreetartmovement.tumblr.com/.
Berbeda dan Merdeka 100% adalah seruan sederhana untuk mengingatkan
semua orang agar tetap menghargai dan memberi ruang bagi perbedaan dan
untuk tetap menjadi orang-orang yang merdeka. Sebagai bentuk sikap dan
pilihan untuk TIDAK DIAM atas terjadinya berbagai tindak kekerasan yang
terjadi baik secara simbolik maupun fisik di tanah air akhir-akhir ini,
kami mengajak teman-teman semua untuk menyerukan perdamaian pada Minggu,
17 April 2011.
Seruan Berbeda dan Merdeka 100% sangat bebas
diaplikasikan dalam berbagai cara dan tindakan yang sederhana dan
mandiri. Kegiatan ini terbuka untuk siapa saja yang percaya bahwa
menghargai perbedaan dan menjadi merdeka adalah prinsip mendasar bagi
masyarakat yang menjunjung tinggi demokrasi. Tidak hanya melalui karya
artistik, kegiatan ini bisa dilakukan melalui beragam kegiatan individu,
kelompok, maupun komunitas; baik dalam skala kecil maupun besar. Karena
keberagaman harus terus diingatkan kepada seluruh lapisan masyarakat
sehingga hidup berdampingan dengan yang berbeda secara damai bukan hal
yang mustahil. Kalau kamu menghargai keberagaman dan kemerdekaan, serta
menolak kekerasan, maka kamu sudah menjadi bagian dari gerakan Berbeda
dan Merdeka 100%,
Rabu, 22 Januari 2014
seniman
Dalam dunia seni, pelukis adalah orang yang menciptakan karya seni dua dimensi berupa lukisan. Selain pelukis, istilah yang pernah populer sebagai padanan kata ini adalah ahli gambar. Hal tersebut dibuktikan dengan pernah berdirinya sebuah komunitas para pelukis Indonesia
dengan nama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938.
Komunitas ini bertujuan sebagai ajang belajar dan berbagi di antara para
pelukis Indonesia saat itu.ABSTRAKPenelitian yang berjudul Persaingan Seni Visual Jalanan Dalam
Ruang Publik Kota Surabaya bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk
persaingan yang muncul dalam lingkungan pergaulan seniman komunitas
visual jalanan ketika karya-karya yang mereka buat akhirnya harus timpa
menimpa. Peneliti menganggap penelitian ini penting karena seni visual
jalanan yang selama ini banyak terdapat di tembok-tembok kota ternyata
memiliki realitas lain menarik untuk diungkap.Penelitian ini dilakukan
di Surabaya menggunakan dengan metode kualitatif, dengan tipe penelitian
deskriptif, dengan menggunakan wawancara mendalam. Penelitian
menggunakan informasi yang disampaikan lima orang seniman visual jalanan
sebagai Subyek. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori
interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer dan Stratifikasi Konflik
Randall Collins untuk menganalisis hasil temuan data. Hasil penelitian
menunjukan, perilaku seniman dalam memperebutkan lokasi untuk berkarya
memunculkan persaingan dalam bentuk timpa menimpa gambar, namun tidak
menutup kemungkinan adanya bentuk bentuk lain seperti
intimidasi.Beberapa seniman mengatakan timpa menimpa gambar adalah hal
yang wajar terjadi, sementara yang lain beranggapan menimpa gambar
merupakan media pemicu permusuhan diantara seniman visual jalanan.
Perbedaan ini disebabkan beragamnya karakteristik masyarakat perkotaan,
sehingga perbedaan persepsi tentang konsep seni visual jalanan dan timpa
menimpa gambar menjadi pemicu persaingan yang terjadi diantara sesama
seniman.Kata kunci: seniman, seni visual jalanan, persaingan
Langganan:
Postingan (Atom)
