Rabu, 22 Januari 2014

berbeda dan merdeka

Berbeda dan Merdeka 100% adalah sebuah gerakan sosial budaya yang dilakukan secara sukarela, menyebar, dan mandiri di berbagai daerah di Indonesia. Para seniman street art di berbagai kota membuat mural, grafiti, menempel poster, stiker dan berbagai kegiatan artistik lainnya di ruang kota masing-masing secara serentak pada 13 Januari 2011. Kegiatan ini masih terus bergulir hingga sekarang, lihat: http://indonesiastreetartmovement.tumblr.com/. Berbeda dan Merdeka 100% adalah seruan sederhana untuk mengingatkan semua orang agar tetap menghargai dan memberi ruang bagi perbedaan dan untuk tetap menjadi orang-orang yang merdeka. Sebagai bentuk sikap dan pilihan untuk TIDAK DIAM atas terjadinya berbagai tindak kekerasan yang terjadi baik secara simbolik maupun fisik di tanah air akhir-akhir ini, kami mengajak teman-teman semua untuk menyerukan perdamaian pada Minggu, 17 April 2011.
Seruan Berbeda dan Merdeka 100% sangat bebas diaplikasikan dalam berbagai cara dan tindakan yang sederhana dan mandiri. Kegiatan ini terbuka untuk siapa saja yang percaya bahwa menghargai perbedaan dan menjadi merdeka adalah prinsip mendasar bagi masyarakat yang menjunjung tinggi demokrasi. Tidak hanya melalui karya artistik, kegiatan ini bisa dilakukan melalui beragam kegiatan individu, kelompok, maupun komunitas; baik dalam skala kecil maupun besar. Karena keberagaman harus terus diingatkan kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga hidup berdampingan dengan yang berbeda secara damai bukan hal yang mustahil. Kalau kamu menghargai keberagaman dan kemerdekaan, serta menolak kekerasan, maka kamu sudah menjadi bagian dari gerakan Berbeda dan Merdeka 100%,

seniman

Dalam dunia seni, pelukis adalah orang yang menciptakan karya seni dua dimensi berupa lukisan. Selain pelukis, istilah yang pernah populer sebagai padanan kata ini adalah ahli gambar. Hal tersebut dibuktikan dengan pernah berdirinya sebuah komunitas para pelukis Indonesia dengan nama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938. Komunitas ini bertujuan sebagai ajang belajar dan berbagi di antara para pelukis Indonesia saat itu.ABSTRAKPenelitian yang berjudul Persaingan Seni Visual Jalanan Dalam Ruang Publik Kota Surabaya bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk persaingan yang muncul dalam lingkungan pergaulan seniman komunitas visual jalanan ketika karya-karya yang mereka buat akhirnya harus timpa menimpa. Peneliti menganggap penelitian ini penting karena seni visual jalanan yang selama ini banyak terdapat di tembok-tembok kota ternyata memiliki realitas lain menarik untuk diungkap.Penelitian ini dilakukan di Surabaya menggunakan dengan metode kualitatif, dengan tipe penelitian deskriptif, dengan menggunakan wawancara mendalam. Penelitian menggunakan informasi yang disampaikan lima orang seniman visual jalanan sebagai Subyek. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer dan Stratifikasi Konflik Randall Collins untuk menganalisis hasil temuan data. Hasil penelitian menunjukan, perilaku seniman dalam memperebutkan lokasi untuk berkarya memunculkan persaingan dalam bentuk timpa menimpa gambar, namun tidak menutup kemungkinan adanya bentuk bentuk lain seperti intimidasi.Beberapa seniman mengatakan timpa menimpa gambar adalah hal yang wajar terjadi, sementara yang lain beranggapan menimpa gambar merupakan media pemicu permusuhan diantara seniman visual jalanan. Perbedaan ini disebabkan beragamnya karakteristik masyarakat perkotaan, sehingga perbedaan persepsi tentang konsep seni visual jalanan dan timpa menimpa gambar menjadi pemicu persaingan yang terjadi diantara sesama seniman.Kata kunci: seniman, seni visual jalanan, persaingan